TEUNGKU SAFRIADI

TEUNGKU SAFRIADI

Kamis, 14 April 2011

PENDIDIKAN DAYAH DI ERA MODERN (SUATU TAWARAN ALTERNATIF PERBAIKAN AKHLAK GENERASI MUDA)


Oleh:
Safriadi Bin Muhammad Nurdin  Bin Murrah


Perubahan social-kebudayaan adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang, organisasi atau komunitas, ia dapat menyangkut “struktur sosial” atau “pola nilai dan norma” serta “peran”. Prilaku remaja merupakan salah satu proses perkembangan perobahan keadaan para remaja. Dalam suatu teori dijelaskan bahwa seseorang yang menginjak masa remaja terjadi perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, diantaranya  dimensi biologis, dimensi kognitif, dimensi moral, dan dimensi psikologis. Perubahan ini harus disikapi dengan baik agar tidak terjurumus kedalam perubahan kearah yang negatif.
Salah bentuk menyikapi perubahan yang terjadi pada diri seorang remaja itu yaitu dengan memberikannya pendidikan baik umum maupun agama. Dalam realita yang di temukan lapangan, banyak generasi muda baik itu dalam tingkatan pendidikan sekolah menengah maupun di perguruan tinggi khusus dalam dimensi moral yang sudah menyalahi aturan agama dan adat istiadat yang berlaku di daerah yang mendapat label Syari’at Islam ini, misalnya banyaknya tindakan amoral yang pelakunya rata-rata orang yang memiliki latar belakang pendidikan. Oleh karenanya krisis moral yang sedang melanda penerus bangsa membuat kita mundur, meski dalam kenyataan hari ini kita kebanjiran orang-orang pintar. Sayangnya, kebanyakan cuma pandai membodohi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Budaya saling menyalahkan telah membumi di daerah ini sehingga orang-orang sibuk menyalahkan sementara persoalan tiada yang menyelesaikannya, satu sama lain saling memfitnah. Apabila dipelajari secara teliti, akan menemukan dasar kesalahan dari ini semua bahwa ini tidak terlepas dari watak dan kepribadian anak-anak bangsa. Kepribadian yang tidak terurus akan menyimpan sifat hasut, dengki, fitnah yang menjurus kepada perpecahan.

Menyimak permasalahan yang terjadi pada generasi muda tersebut, maka menurut penulis dan sekaligus tawaran sistem pendidikan yang ditempuh oleh para remaja harus dirombak dan diperbaharui. Corak pendidikan yang layak ditawarkan untuk menjawab krisis pendidikan sekarang adalah pendidikan Islami ala “dayah” 

Hal demikian juga diungkapkan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Provinsi Aceh yang berupaya mendorong peningkatan kualitas pendidikan bernilai Islami sebagai dukungan bagi usaha mempercepat pembangunan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) sejalan dengan pemberlakuan syariat Islam di provinsi Aceh.
Dayah dengan langkah yang ditempuh berpotensi melahirkan anak-anak bangsa yang bertakwa, tahu aturan, disiplin, ikhlas dalam melaksanakan kewajiban;  menjadi manusia-manusia yang terampil, cerdas, bijaksana dalam bersikap dan berakhlak mulia yang kemudian menjadi panutan dan rujukan masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan. Bahkan, dengan didikannya dayah, berpeluang menciptakan benih pemimpin yang bijak dan berakhlakul karimah. Apabila kita ingin menyelesaikan persoalan kita sekarang maka ke depan kita harus bisa melahirkan generasi yang punya wawasan, kreatif, cerdik, dan berakhlak mulia. Disini, dayah adalah salah satu solusinya.
Dayah dalam komunitas masyarakat Aceh merupakan sarana pembelajaran ilmu yang strategis, khususnya ilmu-ilmu agama yang mentransformasikan ilmu dari satu generasi ke generasi lain. Selain itu fungsi dayah juga sebagai institusi yang selalu memberikan respons terhadap persoalan sosial kemasyarakatan yang terjadi di Aceh. Peran dayah dan ulama dayah hasil didikannya menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat. Ulama dayah harus selalu siap menjadi pengawal bagi terciptanya komunitas intelektual Aceh .Di Aceh, ulama dan dayah tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Dayah sudah menghasilkan berbagai lulusan agama semenjak pertama kali masyarakat muslim terbentuk di sana. Ulama dayah selalu merespons semua permasalahan yang terjadi di Aceh untuk membimbing masyarakat yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Konsistensi komitmen mereka kepada Aceh dan masyarakat telah membawa mereka menjadi kelompok yang dihormati dan berpengaruh di Aceh
Dayah adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran  Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Namun yang penulis maksudkan disini adalah Suatu lembaga pendidikan Islam baik modern atau tradisional.
Bila ditelusuri sejarah lembaga pendidikan Islam yang ada pertama sekali di Aceh sejak masuknya Islam adalah Dayah. Dayah pada tempo dulu  telah mendidik rakyat Aceh sehingga mereka ada yang mampu menjadi raja, menteri, panglima militer, ulama, ahli teknologi perkapalan, pertanian, kedokteran dan lain-lain. disebabkan fungsi dan peran ulama di masa dulu, baik mengajar maupun menulis sejumlah kitab yang telah mempengaruhi pemikiran Islam di di wilayah Indonesia. Inilah yang telah mengharumkan nama Aceh pada masa lalu sampai diberi julukan Aceh sebagai Serambi Makkah.

Menurut penulis sistem pendidikan dayah pada era moden ini harus diberi tambahan kurikulum yang memuat kurikulum pendidikan yang bersifat umum. Dan dengan ditambahkan kurikulum ini tidak akan mengkikis tradisi dan orisinalitas kekhasan dayah itu sendiri, dikarenakan  penambahan kurikulum  merupakan salah satu cara bagi para lulusan dayah nantinya untuk berinteraksi dalam masyarakat yang hegemoni watak dan budayanya sangat beragam. Dengan kata lain, harus adanya reintegrasi antara pendidikan umum dan agama dalam kurikulum
Reintegrasi (penyatuan kembali) konsep dan metodologi pendidikan dayah dan sekolah dan perguruan tinggi  akan menjadi model pendidikan Islam ideal pada masa sekarang. Dalam hal ini, reaktualisasi kurikulum dayah agar dapat diberlakukan di dayah-dayah di Aceh. Reaktualisasi yang penulis maksudkan disini adalah penataan kembali kurikulum dayah agar mampu berkiprah dan menyesuaikan perannya dengan perkembangan zaman dan harapan masyarakat luas. Harus kita akui, stagnasi kontribusi dayah dalam keilmuan kontemporer dewasa ini adalah karena dayah melepas diri dari metodologi dan kurikulum yang sanggup menjawab kebutuhan zaman dan masyarakatnya di era kontemporer. Hal ini sesuai dengan kaidah
المحافظة على القديم الصالح.والاخد بالجديد الاصلاح                                                                    
Dalam sejarah Islam di Aceh, dari sisi normatif-historis, dayah memiliki peranan besar dalam membangun masyarakat yang berbudaya dan berkeadaban. Seperti pada masa kerajaan Iskandar Muda. Tak jarang banyak ilmuan sosial baik dari dalam maupun dari luar negeri mencatat peran dayah ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kultural masyarakat Aceh dalam semua dimensi kehidupan. Seperti Martin Van Bruinessen, Islamisis berkembangsaan Belanda, ia menyatakan bahwa dayah tidak bisa saja kaya dengan berbagai literatur keilmuan, tetapi juga mampu memberikan konstribusinya bagi masyarakat di sekitarnya. Dayah bahkan telah menjadi sub kultur di tengah masyarakat. Pada tataran teritoral, ekspansi kontribusi dayah juga mencapai skala regional dan bahkan internasional.

Sistem pendidikan pesantren, terutama salafiyah, memiliki keunggulan dalam penguasaan pengetahuan agama yang spesfik semisal tafsir, hadis, fikih, dan sebagainya. Apalagi, para santri keluaran pesantren unggul dalam peran-peran kemasyarakatan (social building). Hal ini bisa dilihat dari tujuan pendidikan yang diterapkan di dayah, yaitu :
1.      Mendidik santri agar menjadi seorang muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT.
2.      Mendidik santri agar menjadi manusia muslim dan kader-kader mubaligh yang tangguh, tabah, dan handal.
3.      Mendidik santri agar memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan.
4.      Mendidik santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dan dan terampil dalam pembangunan mental dan spiritual.
5.      Mendidik santri agar dapat memberi bantuan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dalam rangka usaha pembangunan bangsa.       
Jadi, untuk menjawab tantangan zaman dengan berbagai macam kemajuan teknologi pada era modern ini, maka pendidikan ala “dayah” lah sebagai tawarannya yang harus diterapkan dalam setiap sistem pendidikan di Nanggroe Serambi Mekkah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar