TEUNGKU SAFRIADI

TEUNGKU SAFRIADI
Tampilkan postingan dengan label stain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stain. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

MEMA STAIN MALIKUSSALEH LHOKSEUMAWE DALAM MERAJUT INTELEKTUAL KAMPUS SEJATI (Sebuah Tawaran Dinamika Pergerakan Mahasiswa)

Oleh: Safriadi
Beranjak dari rencana Majlis Eksekutif Mahasiswa (MEMA) STAIN Malikussaleh Lhokseumawe mengadakan pertemuan BEM PTI se Indonesia, naluri keilmuan penulis merasa terpancing untuk menyumbangkan ide-ide dan kritikan yang membangun untuk kegemilangan pergerakan organisasi mahasiswa kampus ke depan. Tulisan ini hanya sebagai bentuk partisipasi dan sebagai pembuka wacana berpikir yang lebih bijak dan kritis sebagai insan intelek kampus yang mumpuni.
Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Sebagaimana menurut Sulaiman Yusuf (1986), memberikan batasan bahwa : “Perubahan secara besar maupun secara kecil atau perubahan secara cepat atau lambat itu sesungguhnya adalah suatu dinamika, artinya suatu kenyataan yang berhubungan dengan perubahan keadaan”
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, mahasiswa selalu dianggap sebagai sosok yang dapat berpikir kritis, realistis dan dialektis. Bahkan tak jarang sering radikal dan revolusioner (Ari Sulistyanto, 1994)
Mengangkat pernyataan Paul Baran bahwa seorang intelektual pada azasnya adalah seorang pengeritik masyarakat, seorang yang pekerjaannya mengidentifikasi, menganalisis dan dengan demikian membantu mengatasi rintangan-rintangan jalan yang menghambat tercapainya susunan-susunan masyarakat yang lebih baik, lebih berperikemanusiaan dan lebih rasional. Dengan demikian dia menjadi hati nurani masyarakat dan menjadi juru bicara dari kekuatan-kekuatan progresif yang terdapat dalam tiap periode tertentu dari sejarah. Dan dengan demikian mau tidak mau dianggap “pengacau” dan seorang yang menjengkelkan bagi penguasa”.
Lazimnya bila menyingggung sebuah pergerakan mahasiswa, maka umumnya direpresentasikan dengan aksi demonstrasi mahasiswa, dalam hal ini harus ada tiga tawaran yang harus dilakukan oleh setiap pergerakan, yaitu pemilihan isu, eskalasi gerakan, dan manajemen opini media. Namun dalam tulisan ini, penulis menawarkan suatu paradigma lain menyangkut dengan kata-kata gerakan mahasiswa, yaitu suatu pergerakan yang bukan memobilisasi massa untuk berunjuk rasa, namun bagaimana cara menciptakan seorang mahasiswa berpikir kritis, kemampuan melakukan kajian-kajian ilmiah, peka terhadap masalah intern dan ekstern kampus, sehingga terciptanya insan intelektual kampus, sebagaimana tujuan dari diterapkannya tridarma perguruan tinggi.
Bila kita amati dengan seksama, mahasiswa mempunyai kedudukan yang sangat unik yaitu sebagai kaum yang diterima oleh semua lapisan masyarakat dan mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi. Keberadaan tersebut juga didukung oleh karakteristik mahasiswa yang rata-rata masih berusia muda, penuh semangat, dinamis dan tidak takut kehilangan sesuatu yang merusak idialisme dirinya. Karena sebagai bagian dari generasi muda (pemuda), status kemahasiswaannya menyandang nilai lebih dari pemuda lainnya. Melalui kajian-kajian dan pemikiran-pemikiran yang metodis, mahasiswa diharapkan mampu menangkap, menganalisis, dan mensintesakan setiap perubahan-perubahan dan dinamika kehidupan yang terjadi dalam masyarakat. Baik itu menyangkut kehidupan politik, sosial, ekonomi, hak asasi maupun permasalahan-permasalahan lain yang mengharuskan mahasiswa untuk menyikapi dan menyuarakan pemikirannya.
Karena itulah di lingkungannya mahasiswa sering dikatakan sebagai "intelektual sejati". Ketika harus terjun ke masyarakat, mereka dapat dengan mudah berbaur, dan ketika harus berurusan dengan kaum birokrat, mereka mampu mengimbangi dengan kemampuan intelektual dan pendidikan yang telah diterimanya selama ini. Oleh sebab itu, mereka berperan strategis dalam kehidupan berbangsa yaitu sebagai penerus cita-cita bangsa. Berangkat dari hal demikian, MEMA STAIN Malikussaleh Lhokseumawe masih terkesan lamban, kaku dan bahkan belum menyentuh aspek-aspek kritis yang sepatutnya mereka lakukan dalam setiap master plannya, hal ini dapat terlihat dari belum terbentuknya lembaga-lembaga yang mewadahi penelitian mahasiswa. Ini menjadi indikator bahwa minat para aktivis kampus dalam hal ini para pengurus MEMA, masih berioentasi kepada hal yang berbau materil, tidak pernah melihat kepada minat dan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa. Dalam kontek mewujudkan insan intelektual kampus yang sejati, Penulis pernah melakukan diskusi dan wawancara dengan petinggi MEMA. Terlihat bahwa masih belum terwujudkan pengkaderan-pengkaderan yang berbasis intelektualitas. Menurut penulis, MEMA harus melakukan pengkaderan sebagai transformasi ide dan wawasan (wawasan kei-Islaman, ke-umatan, serta wawasan ke-MEMA-an) sekaligus sebagai proses regenerasi dan kesinambungan masa depan MEMA itu sendiri. Ada dua alasan yang menjadikan penulis memberanikan diri mendiskusikan dan mengusulkan itu. Pertama, alasan ideal dan faktual. Secara ideal, dalam sebuah organisasi pergerakan-apapun namanya pengkaderan atau kaderisasi adalah jantungnya organisasi. Estafet perjuangan harus ada yang meneruskan agar tidak terhenti sampai batas masanya, kader-keder selanjutnya itulah yang harus meneruskannya. Kedua, secara faktual, bahwa MEMA mempunyai banyak sekali potensi-potensi yang dimiliki anggotanya khususnya dan mahasiswa pada umumnya, jika potensi-potensi itu tadi dibiarkan dan tidak dipupuk serta diarahkan, dikhawatirkan potensi-potensi yang dimiliki itu secara perlahan akan "mati muda".
MEMA STAIN Malikussaleh merupakan MEMA yang berasaskan keislaman, sehingga budaya yang dipraktekkan dalam kesehariannya harus selaras seperti visi MEMA itu sendiri. Hofstede (1994:180) mendefinisikan budaya organisasi sebagai pemikiran secara kolektif yang membedakan para anggota satu organisasi dengan organisasi lainnya. Budaya berorganisasi di STAIN, dalam hal ini MEMA harus menciptakan karakteristik tersendiri, jangan hanya bisa mengadopsi budaya dari organisasi yang lain. Misalnya budaya organisasi ormas-ormas islam. Menurut penulis itu merupakan mundur kebelakang. Bukan suatu langkah maju dan terobosan jitu untuk merubah image MEMA STAIN Malikussaleh ke depan lebih cemerlang, karena intelektual muda yang berakar pada para mahasiswa, saat ini mulai hilang seiring dengan membanjirnya kekuatan kapitalisme lewat budaya massa dan budaya instan lainnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh dosen dan peneliti Universitas Negeri Semarang (Unnes), Saratri Wilonoyudho. Oleh karena demikian, MEMA STAIN Malikussaleh harus merespon gejala ini dengan melakukan penyegaran terhadap kapitalisme yang menciptakan budaya massa dan budaya instan yang menyebabkan banyak mahasiswa yang datang ke kampus bukan untuk mencari ilmu, namun sekedar untuk mendapatkan gelar. Sehingga lulusan yang dihasilkan STAIN Malikussaleh tidak hanya mendapat titel sarjananya namun, juga harus mendapatkan titel intelektual. Karena jelas tampak sekali beda antara intelektual dan sarjana. Untuk mendapatkan predikat intelektual tidaklah harus melalui proses pendidikan tinggi namun tidak semua penikmat pendidikan tinggi adalah seorang intelektual.
Pengalaman penulis tercenung agak lama menyaksikan peristiwa menyedihkan yang terjadi di kampus tercinta ini. Tunas-tunas muda yang tumbuh dengan semangat kritis harus tumbang karena berbeda pendapat, ide dan pemikiran. Kampus sebagai tempat dimana orang mengasah pikiran maupun akal sehat dipaksa roboh hanya karena ketidak sediaan menerima dialog. Anak-anak muda yang berada di balik terali besi itu terenggut sudah hari-hari belajarnya karena berusaha untuk menghidupkan kembali, Mereka tersungkur dalam proses komersialisasi pendidikan yang berangkat dari anggapan-anggapan yang naïf. Isu adanya unsur premanisme kampus begitu terasa di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Apakah ini benar adanya?Wallahu’aklam, hanya hati nurani masing-masing yanng bisa menjawabnya. Ini merupakan tugas berat yang harus diemban dan di handle oleh kepemimpinan MEMA saat ini dan penerusnya kedepan. Tawaran penulis, isu premanisme ini jangan dilawan dengan cara membuat aksi mahasiswa (demonstrasi), namun ciptakan, wujudkan dan berikan ide-ide yang kritis bagi para mahasiswa, sehingga mereka bisa berperang bukan dengan fisik dan senjata, namun dengan perperangan pemikiran. Tindakan premanisme tidak mampu memberikan metode pendidikan pembebasan yang dialogis, artinya pendidikan yang membuka seluas-luasnya kesempatan untuk bertanya dan berpikir secara kritis, kesempatan untuk bebas berkelompok dan seterusnya sehingga mahasiswanya mengekspresikan sebuah keterkekangan dalam bentuk tindakan premanisme tadi. Dapat pula kita melihat kemungkinan yang lain bahwa dalam dunia kampus, para mahasiswa yang melakukan tindakan premanisme tidak mendapatkan keteladanan konkret yang mencerminkan kualitas mental dan moral yang tinggi dari semua elemen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan dunia kampus. Jika dua asumsi mendasar tadi (ruang-ruang dialogis bagi mahasiswa dan keteladanan mental dan moral) yang disebutkan diatas tidak ada dalam dunia kampus itu sendiri maka memang sulit untuk generasi dan semua elemen bangsa saat ini untuk mengharapkan lebih dari dunia perguruan tingi, kita kemudian tidak bisa menjamin bahwa dunia kampus sebagai wadah penggodokan kader-kader bangsa yang bermoral, cerdas, dan kreatif. Terakhir penulis dan kawan-kawan berpesan agar keluarga MEMA STAIN Malikussaleh mewujudkan interaksi sosial keilmiahan dan optimalisasi peran mahasiswa dalam langkah membangun reputasi, menciptakan prestasi, menggapai solidaritas dan sinergisitas kelembagaan sesuai budaya intelektual emosional, spiritual, sehingga menghasilkan intelektual “sejati”. Awalilah dengan niat, berbuatlah dari hal yang terkecil karena dari yang terkecil tersebut dapat melahirkan sumbangsih yang begitu besar buat sebuah perubahan.

Senin, 04 April 2011

MUNGKINKAH STAIN MALIKUSSALEH LHOKSEUMAWE JADI UIN

Pidato Wisudawan Angkatan VII STAIN Malikussaleh Lhokseumawe Tanggal 12 Maret 2011 



Bismillaahirrahmaanirraahiim
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh
Yth. Ketua STAIN Malikussaleh Lhokseumawe selaku Ketua Senat,
Yang kami hormati, Seluruh Anggota Senat STAIN Malikussaleh Lhokseumawe
Yang Kami Hormati, Para Dosen serta pegawai di lingkungan STAIN Malikussaleh Lhokseumawe
Salam Ta’zim dan Keikraman kepada Para Orang Tua kami
Yang Kami Hormati, Bapak / Ibu para Undangan sekalian,
Rekan-rekan Wisudawan dan Wisudawati yang saya banggakan..
Serta hadirin yang berbahagia.

Merupakan suatu kehormatan besar bagi saya selaku perwakilan wisudawan untuk berdiri di hadapan hadirin sekalian, di mimbar yang begitu prestisius ini, untuk menyampaikan kesan dan pesan kami selama menimba ilmu dan menempuh pendidikan di lembaga tercinta ini.
Hadirin bapak/ibu yang saya hormati..
Empat tahun yang lalu kita berkumpul bersama disini untuk menerima sebuah pendidikan. Hari ini menandai sebuah tonggak dalam pencarian tersebut. Sebuah titik kulminasi dari empat tahun pembelajaran. Empat tahun sudah kami telah berjuang mengasah diri, menuai tempaan yang menguras konsentrasi, tenaga dan materi demi sebuah cita-cita, yaitu menjadi seorang insan yang kamil yang mampu mengkaji berbagai disiplin ilmu sesuai dengan visi STAIN Malikusssaleh.
Begitu banyak kenangan, suka, duka, dan pahit manis perjalanan yang telah kami lalui. Saatnyalah sekarang kita bersama-sama melakukan refleksi atas apa yang telah kita lalui dan kita pelajari.
Hadirin Bapak/Ibu yang berbahagia.....
Cukup banyak kesan yang kami dapatkan selama kami menempuh pendidikan di STAIN Malikussaleh.
Secara umum kesan yang kami dapatkan adalah positif, dan kami merasa sangat bangga pernah menjadi  dan akan terus menjadi bagian dari keluarga besar STAIN Malikussaleh. Secara formal, proses pendidikan yang berlangsung di lembaga ini telah mampu menggiring mahasiswa menjadi individu yang cerdas secara intelektual, spiritual, dan Emosional, memiliki olah rasa yang kuat serta bertakwa kepada Tuhan Rabbul Jalal Wal Ikram.
 Di samping itu, kesempatan berinteraksi dengan para pendidik, pakar hukum, dan jurnalis dari berbagai karakter dalam event-event berskala lokal, nasional dan bahkan internasional, baik di dalam kampus maupun diluar kampus secara tidak langsung telah membentuk mentalitas untuk kami gunakan sebagai bekal terjun ke masyarakat.

Bapak Ibu serta hadirin yang berbahagia………………..
Dalam kesempatan yang baik ini, kami ingin menyampaikan terima kasih serta penghargaan setinggi-tingginya kepada para dosen, karena telah berupaya keras mendidik dan membimbing kami agar menjadi insan cerdas berdaya saing tinggi. Kamiii... bisa berada disini pada hari ini tentu merupakan buah dari hasil didikan para dosen2 kami yang telah kami anggap sebagai orang tua kami di kampus ini. Kami berharap, ikatan silaturahmi yang telah terjalin dapat terus terjaga dan tak akan pernah pudar terhapus oleh perjalanan sang waktu.
Kami pun menyadari bahwa selama menempuh pendidikan di lembaga ini terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan yang telah kami lakukan dalam bertindak, berkata dan bersikap. Hal tersebut tidak terlepas dari proses penemuan jati diri yang sedang kami alami dan bukanlah sesuatu yang kami harapkan terjadi. Untuk itu, kami memandang inilah momen terbaik kami untuk memohon maaf kepada segenap pihak, sehingga selepasnya kami dari lembaga ini tidak ada lagi ganjalan di hati sebagai penghambat tali silaturahmi kita.

Bapak ibu, hadirin yang berbahagia,….

Tentunya, sejalan dengan kesan positif yang telah berhasil dibangun oleh lembaga yang kita cintai ini, terdapat beberapa hal yang patut diberi perhatian lebih, guna memantapkan pijak langkah STAIN ke depannya. Oleh dari itu, dengan segala kerendahan hati dan didasari semangat membangun, ijinkanlah kami menyampaikan beberapa pesan dari sudut pandang kemahasiswaan. Adapun pesan yang ingin kami sampaikan ialah :
1.      Di bidang Pembangunan fisik dalam beberapa tahun ini berkembang cukup signifikan dan menggembirakan, dari perkuliahan yang berlangsung di gedung lama di Lancang Garam, sehinga sekarang sudah dapat kami rasakan aroma sejuk nan rimbun di perbukitan Alue Awee ini, Sehingga harapan kami dan kita semua, dua atau tiga tahun ke depan kampus tercinta ini akan berubah statusnya...bukan ke STAI ataupun IAIN, namun berubah menjadi Universitas....Universitas Islam Negeri (UIN) Malikussaleh Lhokseumawe.
2.      Di bidang kemahasiswaan. Lulusan STAIN Malikussaleh sudah terbukti menjadi seorang lulusan yang ungggul di dalam bidangnya, oleh karena itu.....kami Mohon agar kiranya di tahun ini, pihak kampus STAIN Malikussaleh Lhokseumawe menjaring alumni-alumni dengan prediket lulusan terbaik untuk memberikan beasiswa penuh dan disekolahkan ke jenjang Strata 2....dengan harapan ilmu2 yang mereka peroleh kelak nantinya bisa diaplikasikan untuk kemajuan STAIN Malikussaleh.
3.       Agar STAIN Malikussaleh selalu berpegang teguh pada visi dan misinya, serta mampu menjaga wibawa, martabat dan citra lembaga di mata masyarakat luas.

Sedangkan pesan saya kepada rekan-rekan wisudawan-wisudawati yang saya banggakan,, singkat saja yaitu :
1.      Jangan pernah merasa takabur dan cepat puas diri, sebab diatas langit masih ada langit. Mari kita terus mengisi diri secara keilmuan, terus mengasah kepekaan rasa dan tentu saja mengamalkan ajaran agama secara seimbang. Dan melanjutkan pendidikan ke jenjang strata 2
Bapak/Ibu Hadirin yang berbahagia..
Tanpa kita sadari, bahwa semua yang kita peroleh hari ini merupakan sebagian kebaikan yang diberikan para pengajar kita. Kita harus menjadi pribadi yang tahu balas budi. Hutang materi mudahlah dilunasi, hutang budi akan dibawa mati. Maka, pada kesempatan yang baik ini, perkenankan kami mewakili rekan-rekan wisudawan menyampaikan rasa terima kasih dengan setulus-tulusnya kepada:
1. Bapak Ketua, Para Pembantu Ketua, Ketua jurusan, Ketua Program Studi dan Kepala UPT di lingkungan STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Bapak/Ibu terima kasih untuk semua kebaikan yang telah diberikan selama kami menimba ilmu di lembaga Tercinta ini.
2. Para Bapak, Ibu Dosen di lingkungan STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Untuk Bapak, Ibu, tiada kata terucap selain rasa terima kasih yang hanya dapat kami sampaikan kepada Bapak/Ibu.
3. Orang tua kami, suami dan istri kami, anak-anak kami, serta sahabat dan kerabat kami. Ayah-ibu, terima kasih untuk semua didikanmu sehingga hari ini kami dapat menyelesaikan pendidikan. Tanpamu, mustahil semua ini dapat diraih. Meskipun kami belum dapat membalas semua kebaikanmu, engkau masih terus memberikan kebaikan dengan ikhlas tanpa berharap balas. Semoga Allah memberikan syurga-Nya untuk Engkau.aamiiiiinnnnn,...
Hadirin Bapak/Ibu yang berbahagia
Akhir kata, kami berharap jalinan komunikasi antar alumni tetap terjaga sehingga terjadi sinergisitas untuk membangun kampus tercinta, baik saat ini maupun waktu yang akan datang. Untuk semua kesalahan, kekhilafan, dan tutur kata yang tiada berkenan, kami mohon maaf. Terima kasih untuk semua perhatiannya, dan…
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabaraakaatuh.
Lhokseumawe, 12 Maret 2011
Wakil wisudawan

 SAFRIADI MN